'IDUL FITRI PERTAMA RASULULLAH SAW

Oleh  :  Ustadz Nedi Arwandi
Di Talang Jawa Muaradua OKU Selatan
1 Syawal 1431 H / 10 September 2010 M 




muqaddimah khutbah idul fitri

Jama’ah sholat ‘Idul Fitri Rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa mengucapkan puja-puji , keagungan, kemuliaan, kecintaan, ketaatan dan kesetiaan kepada Allah. Allah yang menguasai hati-hati manusia , yang menggenggam kekuasaan 7 petala langit dan bumi beserta isinya. 

Tidak ada daun satu helaipun yang jatuh ke bumi kecuali dengan izin Allah, tidak ada pasir satu butirpun yang bergerak oleh angin kecuali dengan sepengetahuan Allah SWT, Allah yang mengetahui apa- apa yang terdetik dalam hati manusia, yang selalu mengawasi setiap gerak langkah manusia tiap detiknya.

Allahu Akbar 3x , Wa lillahil hamd,
Kita baru saja meninggalkan satu bulan yang  amat mulia, bulan rahmat yang membuahkan takwa dan mengembalikan fitrah. Bulan ujian kesabaran, ujian tenggang rasa, bulan dosa diampuni dan kesalahan dimaafkan. 

Mudah-mudahan segala ibadah dan puasa yang kita tunaikan dengan susah payah diterima Allah SWT dan kita dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba Allah yang berhasil lulus menjadi Muttaqiin. Amiin.

Allahu Akbar 3x, Wa lillahil hamd,
Jamaah sholat ‘idul fitri rahimakumullah,
Terbenamnya sang mentari di ufuk barat pada akhir Ramadhan kemarin disambut dengan kumandang kalimah takbir,tahlil dan tahmid oleh Kaum Muslimin di seantero jagad. Pada pagi 1 Syawal 1431 H ini, sekitar satu miliar muslim di seluruh dunia berkumpul di masjid-masjid dan di tanah-tanah lapang, mereka mengumandangkan kalimat-kalimat mulia itu sahut menyahut sampai mengantarkan kaum Muslimin ke tempat-tempat sholat ‘Id di hari yang mulia ini serta untuk menyambut hari yang amat penting dalam salah satu episode kehidupan mereka.

Kalimat Takbir yang diucapkan merupakan cerminan keyakinan bahwa hanya Alloh sajalah yang Maha Besar sedang selain Alloh kecil, kecil kekuatannya, kecil kehebatannya, kecil pengetahuannya, kecil Kekayaannya, dan kecil segalanya. Meskipun mereka berkuasa, tetapi kekuasaan mereka dibatasi oleh waktu, barangsiapa yang bersandar pada suatu jabatan ketika kursi jabatan itu telah habis masa pakainya tentu ia kehilangan kekuasaannya. Dan tidak sedikit yang dulunya berada dalam singgasana kekuasaan tapi pada akhirnya berada dibalik jeruji penjara karena kasus korupsi dsb.

Kalimah Tahlil “ Laa Ilaaha Illalloh “ , diucapkan sebagai pernyataan bahwa hanya Alloh sajalah yang diabdi, hanya Alloh sajalah yang dipatuhi dan ditunduki secara mutlak.
Sedang Kalimah Tahmid yang dilantunkan dengan hati menunjukkan bahwa pujian hanyalah hak Alloh, selain Alloh tidak berhak untuk menuntut pujian dan sanjungan. Sebab pujian dan sanjungan itu merupakan kebesaran Alloh, berbahagialah mereka yang tidak mencari-cari pujian.

Allahu Akbar 3x, Wa lillahil hamd,
Jamaah sholat ‘idul fitri rahimakumullah,
1429 tahun yang lalu , dimana Nabi SAW dan para sahabatnya merayakan ‘Idul Fitri yang pertama kali di tahun kedua hijriyah, yang mana pada tahun tersebut ada 4 ( empat ) peristiwa besar yang menambah terasanya keagungan ‘Id yang mulia ini. 

Pada pertengahan bulan Rajab tahun ke-2 hijriyah, turun firman Alloh surat Al Baqarah ayat 144 yang menetapkan perpindahan kiblat kaum Muslimin yang sejak Isro’ Mi’roj menghadap ke arah Masjid Al Aqsho di Baitul Maqdis Palestina menjadi ke arah Ka’bah di Masjid Al Haram Mekkah.

Kemudian pada tanggal 10 Sya’ban tahun ke-2 hijriyah, turunlah syariat berpuasa di bulan Ramadhan. Puasa merupakan tarbiyah dengan kurikulum langit yang Alloh buat untuk para hambaNya agar terbentuk jiwa-jiwa yang muttaqiin, jiwa-jiwa yang peka dengan penderitaan dan kesulitan kaum faqir. 

Tetapi, baru saja kaum Muslimin berpuasa + dua pekan untuk yang pertama kali ini, pada tanggal 17 Ramadhan terjadilah puncak “ Perang Badar “ yang terkenal , kita dapat membayangkan betapa hebatnya tempaan yang dialami oleh generasi awal , para sahabat dibawah bimbingan Nabi SAW mereka berpuasa pertama kali lalu pada saat itu juga mereka terjun yang pertama kali kedalam kancah pertempuran yang sangat dahsyat, betapa tidak , 300-an kaum Muslimin dengan persenjataan yang sangat terbatas harus berhadapan dengan 1000 pasukan Quraisy yang terlatih dengan sarana yang lengkap. 

Tetapi karena puasa adalah syari’at Alloh dan  perang pada saat itu adalah syari’at Alloh pula, sedang kaum Muslimin sedang menjalankan kedua syari’at Alloh tersebut, maka sangatlah wajar kalau mereka para sahabat mendapat pertolongan dan bantuan dari pemilik syari’at yaitu Alloh, sehingga dengan izin dan pertolonganNya peperangan tersebut dapat dimenangkan oleh kaum Muslimin dengan cemerlang.

Ikhwaanii fiddiin rahimakumulloh,
Kemudian pada pekan ke-3 masih di bulan Ramadhan di tahun ke-2 hijriyah, Alloh menurunkan syari’at yang berikutnya yakni Zakat Fitrah yang kemudian disusul dengan syari’at zakat secara umum. Zakat adalah fasilitas dari Alloh untuk mensucikan harta sebagaimana hadats disucikan dengan wudhu. Kekayaan yang tak disucikan hanya akan membawa petaka pada pemiliknya baik pada kesehatan ruhaninya maupun keseimbangan dunia sosialnya. 

Kekayaan yang tak dibagi adalah tragedi. Setiap nyawa memang ada jatah rezekinya, tapi pelaksanaannya berpulang pada hubungan sosial kita. Sebab pada sebagian penghasilan kita, ada rezeki orang lain. Seringkali, yang membuat orang lapar bukan karena tak ada makanan, tapi karena jatah makanannya ditelan orang lain. 

Yang membuat orang kekurangan bukan semata karena minimnya ketersediaan kebutuhan, tapi karena ada orang lain yang tak pernah merasa berkecukupan. Akibatnya terjadi kesenjangan. Kekayaan sering pula menyisakan kisah antagonis yang tak pernah habis, Pilu dan menyesakkan seperti ulah seorang majikan yang membantai pembantunya, di Tangerang, Banten, karena hanya sang pembantu mengambil sepotong roti di kulkas. 

Sepotong roti telah mengantarkan perempuan itu ke alam  kubur dengan cara yang sangat menyakitkan.  Inilah paradigma kekayaan itu, sang tuanlah yang berkuasa atas sepotong roti itu, yang sebenarnya bila ditelanpun tak penuh diujung lambung. Kekayaan memang memiliki caranya yang khas untuk meninggikan derajat manusia, atau sebaliknya, menjerembabkannya ketempat sampah kehidupan. 

Padahal hidup ini tidak berjalan secara mekanik. Sebab buminya tidak datar, permasalahannya tidak datar. Selalu dibutuhkan rongga-rongga penyeimbang. Harus ada unsur-unsur lentur yang menyelaraskan. Rongga  penyeimbang itu, unsur lentur itu adalah nilai-nilai  moral keutamaan yang telah Allah bingkiskan kemuliaan itu dalam bentuk  zakat, infaq dan sodaqoh. 

Demikian pentingnya kedudukan zakat dalam Islam, sehingga pantaslah Khalifah Abu Bakar membuat kebijakan yang sangat tegas terhadap orang-orang yang menolak zakat ; ucapan beliau yang terkenal mengenai hal ini adalah  “ Demi Alloh, pasti saya akan memerangi orang yang memisahkan antara sholat dan zakat. Karena zakat itu hak harta. Demi Alloh, seandainya mereka tidak membayar walau hanya sehelai tali kambing atau tali unta sebagaimana mereka tunaikan pada Nabi SAW pasti saya akan memerangi mereka disebabkan tidak ditunaikannya kewajiban ini “ , Umar yang mendengar hal berkata : ‘  Demi Alloh, hal itu tidak lain kecuali saya yakin bahwa Alloh telah membukakan dada Abu Bakar untuk memerangi orang yang tidak mau menunaikan zakat, saya tahu bahwa ia benar “. 

Allahu Akbar 3x, Wa lillahil hamd,
Jamaah sholat ‘idul fitri rahimakumullah,
Allah Jalla Jalaaluhu berfirman : “ Sesungguhnya orang-orang yang membenarkan ( Alloh dan RosulNya ) dan meminjamkan kepada Alloh pinjaman yang baik niscaya akan dilipat gandakan ( pembayarannya ) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak “( Surah Al Hadid:18 )
Mereka yang bersodaqoh, berinfaq dan menunaikan zakatnya, pada hakekatnya memberi hutang kepada Allah. Karena sebagaimana hutang, apa yang telah dihutangkan tentu akan dikembalikan ketika orang yang meminjamkannya sedang sangat memerlukan.  

Sungguh beruntung orang yang mengatur hartanya dan menyimpannya di dalam Bank Allah, yang tidak akan ada kesia-siaan, kerusakan ataupun  kehilangan. Sedangkan ketika di dunia, senantiasa ada bahaya demi bahaya. Padahal Yaumul Mahsyar merupakan masa-masa yang sangat menyulitkan, memerlukakn persiapan dan keperluan yang sangat besar. 

Pada saat itu, kita tidak  dapat  membeli hukum Allah, sebagaimana dapat dibelinya hukum di dunia. Kita juga tidak dapat meminta pertolongan orang lain karena satu-satunya yang dapat menolong kita hanyalah Alloh dengan perantara amalan-amalan serta simpanan yang telah dikirim ketika masih di dunia. 

Demikian penting dan kerasnya hari itu, maka apa yang dapat kita persiapkan dan simpan untuk keperluan  hari yang menakutkan itu, kita mesti  mengusahakannya semampu mungkin sekarang ini, dan menyimpannya sedikit demi sedikit di dunia ini , tidak akan terasa bahwa disana akan menjadi besar dan berlipat ganda tanpa mampu akal membayangkannya.

Ikhwaanii fiddiin rahimakumulloh,
Setelah melalui perjalanan perjuangan, diawali dengan perubahan kiblat, lalu perintah puasa kemudian kewajiban berperang mempertahankan agama, lalu diwajibkannya zakat, dalam suasana seperti itulah Nabi SAW dan para sahabat pertama kali ber’Idul Fitri. Semoga , takbir yang kita kumandangkan hari ini sebagaimana takbir yang dikumandangkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya di “idul Fitri tahun ke-2 Hijriyah sebagai takbir kemenangan, kemenangan karena telah memiliki kiblat sholat dan kiblat kehidupan yang berbeda dengan kiblat umumnya manusia, takbir karena dapat menyebarkan pemerataan sosial. 

Semoga takbir kita dihari yang mulia ini sebagai takbir yang menempati anak-anak tangga menuju puncak takbir kemenangan yang hakiki.

Akhirnya, marilah kita memohon kepada Alloh , semoga Dzat Yang Maha Agung mengampuni dosa dan kesalahan-kesalahan kita , baik yang sifatnya individual maupun kolektif , yang disengaja atau yang karena alpa, dosa besar maupun kecil. Dan semoga Alloh senantiasa menuntun kita pada jalan yang diridhoiNya sebagaimana jalan yang pernah ditempuh para Nabi dan Rosul dan orang-orang sholih.
Diposkan oleh Nedi Arwandi
Darussalam OKU Selatan Updated at: Rabu, 15 September 2010