KHUTBAH JUM'AT : RISALAH MUHAMMAD SAW

RISALAH MUHAMMAD SAW
Masjid Darussalam, Jum’at, 12 Juni 2009
Oleh  :  Nedi Arwandi
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Hadirin jama’ah sholat jum’at yang dirahmati Allah,
Sebagaimana kita yakini, bahwa Nabi Muhammad saw, adalah Nabi dan Rasul terakhir yang diutus Allah swt kepada segenap umat manusia di kolong jagat raya ini. Nabi yang mu'jizatnya Al Qur'an, imamnya Al Qur'an, akhlaqnya Al Qur'an, dan penghias dadanya, cahaya hatinya juga penghilang kesedihannya adalah Al Qur'an Beliau diutus dengan tugas menyampaikan risalah Islam sekaligus sebagai rahmatan lil'alamin (sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta) yang penuh dengan contoh teladan utama. 


Risalah Muhamad SAW, tidaklah berakhir pada rumus-rumus kaidah filsafat yang universil dan abstrak, yang dilepaskan mengapung di awang-awang untuk dilihat dan dikagum-kagumi atau dalil-dalil theologi untuk dikunyah-kunyah sambil duduk manis.

Tujuan risalah adalah untuk “ menghidup sempurnakan “ manusia sehingga benar-benar hidup ! . Risalah Muhammad SAW membina pribadi sebagai “ social being ‘ mencetak ummat yang mempunyai corak dan tujuan hidup yang tentu. Hidupnya berisikan amal yang shalih, pancaran iman ; keduan kakinya terpancang di bumi , jiwanya menjangkau langit.

Diriwayatkan oleh Abdullah Ibnu Umar, bahwa pada suatu hari dia berjalan dengan khalifah Umar Bin Khattab dari madinah menuju Mekkah. Ditengah perjalanan mereka berjumpa dengan seorang anak gembala dari budak sahaya yang sedang turun dari tempat penggembalaan dengan kambing-kambingnya yang banyak. Khalifah ingin menguji sampai dimana anak gembala itu bersifat amanah. Antara keduanya terjadi percakapan sebagai berikut :

Khalifah : Wahai penggembala ! Jualah kepadaku seekor anak kambing dari ternakmu ini ! “
Gembala : Aku ini hanya seorang budak “
Khalifah : Katakan saja nanti kepada majikanmu, anak kambing itu telah dimakan srigala “.
Gembala : Kalau begitu dimana Allah ? “

Amat pendek jawabnya “dimana Allah ?”

Bagi Khalifah Umar , pertanyaan yang sependek itu yang keluar dari lidah anak kecil sudah cukup untuk menggugah perasaan, meremangkan bulu badan.Ini sudah cukup memancing ingatan mereka kepada bunyi jawaban.

Dan Dia ( Allah ) beserta kamu dimanapun kamu berada dan melihat apa yang kamu perbuat “ ( Al-Hadid : 4 )

Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. 
( Qaaf : 16 )

Inilah jawaban yang tersirat dalam pertanyaan ringkas yang meluncur dari mulut seorang budak sahaya yang masih kecil , waktu dibujuk supaya mau menjual seekor anak kambing yang dikembalakannya secara diam-diam itu.

Tidaklah heran, apabila di waktu itu khalifah Umar bin Khatthab meneteskan air mata lantaran terharu. Kemudian dibawanya budak sahaya tersebut kepada majikannya, ditebusnya kemerdekaan anak gembala itu dan beliau berkata :

“ Kalimat  fa ainalloh telah memerdekakan kamu dari dunia ini, semoga kalimat itu pula yang akan memerdekakan kamu di akhirat kelak “

Demikianlah membekasnya jejak risalah dalam jiwa pribadi para anggota masyarakat pada masa itu mulai dari golongan masyarakat cabang atas sampai kepada lapisan yang paling bawah. Demikianlah risalah membina pribadi.

Mengadakan hakim dan pengadilan memang perlu dalam kehidupan bermasyarakat selama manusia belum jadi malaikat, risalah memang memberikan dasar untuk menegakkan keadilan dengan jaminan-jaminan hukum akan tetapi tidak segala-galanya digantungkan kepada hukum dan hakim. Hukum dan hakim ditegakkan untuk menjaga ujung, menampung akibat. Sedangkan risalah meletakkan titik berat kepada pembangkitan kekuatan pada pribadi manusia itu sendiri yakni kekuatan disiplin dari dalam yang timbul dari hati nurani.

Namun bila suatu masyarakat yang rasa tanggung jawabnya sudah tumpul, kalbunya sudah bisu karena sudah biasa dengan hidup digembalakan dari luar, biasa dihalau kekanan dan kekiri dan biasa memulangkan segala-galanya kepada pihak yang berwajib maka masyarakat yang demikian pada suatu ketika pasti akan terbentur kepada suatu keadaan , dimana polisinya perlu dipolisi-i, para sipirnya perlu disipiri, perlu diadakan pengawas untuk mengawas dan pengawas dari pengawas itupun perlu diawasi lantaran pencegah pelanggaran turut melanggar, pembuat hukum malah melanggar hukum, aparat keamanan malah diamankan,jaksa penuntut jadi dituntut bahkan sang hakim pun malah dihakimi karena sang ahli hukum berjamaah melanggar hukum , tidak satupun dari semua itu menjadi pembicaraan umum, semua diketahui orang sebagai rahasia umum. Bahkan batas benar dan salah menjadi kabur, ini semua bila dhamir masyarakat sudah tumpul dan bisu terhadap ruh risalah ilahiyah.

Hadirin jamaah sholat jumat rahimakumullah,
Bagaimanakah interpretasi para sahabat yang telah mengikuti jejak risalah dari permulaan ? hal tersebut dapat kita simpulkan dari pembahasan khutbah Abu Bakar ketika dilantik sebagai khalifah pemimpin umat Islam pada masa itu ;
“ Sesungguhnya aku telah dipilih menjadi pemimpin kamu sedangkan aku bukanlah seorang yang paling baik diantara kamu. Bila kami melihat aku bertindak benar maka bantulah aku dan bila kamu sekalian melihat aku bertindak salah maka perbaikilah aku “

Dan ketika Umar bin Khatthab dilantik menjadi khalifah pengganti Abu Bakar, beliaupun menyampaikan seruan seperti itu, dengan maksud yang bersamaan , bangunlah dai para pendengar seorang laki-laki miskin yang bernama Sha’luq dan berkata ;

“ Demi Allah, jika kedapatan oleh kami suatu ketidak jujuran pada diri Anda wahai Umar maka kami akan luruskan Anda dengan ujung pedang kami “

Memang tajam kata-kata yang diucapkan Sha’luq itu , namun Umar bin Khatthab yang terkenal sebagai seorang yang paling keras dan berdarah panas diantara para sahabat, cukup tenang menghadapi ucapan semacam itu lalu menjawab dengan jiwa besar ;

“ Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan ditengah-tengah umat Umar seorang yang sanggup meluruskannya dengan ujung pedang “

Hadirin rahimakumullah,
Mudah-mudahan, kita sebagai umat akhir zaman yang lemah ini diberi kekuatan mampu mewujudkan ruh risalah dalam jiwa dan pribadi kita masing-masing.

أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ




Diposkan oleh Nedi Arwandi
Darussalam OKU Selatan Updated at: Rabu, 19 Januari 2011