KHUTBAH 'IDUL ADHA 01

poto-nedi-arwandi
KHUTBAH 'IDUL ADHA :
USWAH HASANAH IBRAHIM
Masjid Muhammadiyah, Pancur Pungah Muaradua
OKU Selatan Sumatera Selatan.
10 Dzulhijjah 1429 H / 08 Desember 2008
Oleh  :  Nedi Arwandi


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.
َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Allahu Akbar 3x walillahil hamd,
Maha Besar Allah dan Maha Agung, Maha Kuasa dari segala penguasa, Maha Ahli dari segala pakar, Segala puji hanya milik Allah. Dialah yang mengatur dan menghancurkan.

Dialah yang mengawasi dan memelihara. Dia yang memancarkan sinar matahari sehingga muncul kehidupan. Dialah yang mengatur perjalanan bumi sehingga beredar dan berputar pada tempatnya dengan dinamis dan teratur sehingga kehidupan dapat berjalan seimbang. Dia pula Yang menggoncang bumi sehingga terjadi gempa yang membinasakan. 

Dia lah Yang Maha Perkasa, selain diri-Nya adalah lemah tak mampu berhadapan dengan sebagian kecil kekuatan-Nya yang Maha Sempurna. Dialah yang menghidupkan dan mematikan, hanya dengan kalimat “ KUN “ maka terjadilah apa yang dikehendakiNya. Dia pulalah yang mengantarkan kepada kita “ Matahari 10 Dzulhijjah “ hari ini dengan rahmatNya,

Matahari pengurbanan Ibrahim as yang mengagumkan, matahari Mina tempat perjuangan melawan Iblis la’natullah ‘alaih, Matahari Li ‘idil Adha hari peringatan berqurban.

Allahu Akbar 3x walillahil hamd,
Mulai kemarin, tanggal 7 Desember para calon haji , bala tentara tauhid berkumpul di ‘Arafah. Berjuta insan yang datang dari berbagai penjuru dunia, memulai haji disana. Di daerah dimana tegaknya ka’bah Baitullah. Mereka memulai ihram dengan melepaskan pakaian yang membedakan status dan golongan diganti dengan pakaian putih yang melambangkan kesucian dan kebersamaan. 

Miqat adalah titik awal seorang yang melakukan ibadah haji. Di sini para jamaah menanggalkan seluruh pakaiannya seraya menggantikannya dengan kain putih yang tidak dijahit sama sekali. Pakaian yang melambangkan kebanggaan kelas sosial, status, yang menjadi pembatas palsu, diskriminasi, perpecahan, ras, yang dipertuan dan yang diperhamba dan sebagainya ditanggalkan. 

Pada saat itulah seluruh jamaah dipaksa untuk mengakui bahwasanya manusia itu sama dari manapun kelas status sosialnya. Seakan-akan Allah memberi pesan ; Kini lepaskanlah pakaianmu dan tinggalkanlah di Miqat! 

Kenakanlah sehelai kain putih yang sederhana. Yang engkau kenakan adalah sama dengan yang lainnya. Sehelai kain putih yang sama putihnya dengan kain kafan yang nantinya akan engkau kenakan ketika telah didatangi al-maut ( kematian ).

Kaum muslimin,
Dalam perjalanan napak tilas keluarga Ibrahim as ini, Wuquf di ‘Arafah adalah salah satu rukun yang tidak boleh ditinggalkan. Bagi yang sakit keras sekalipun harus berhenti sejenak di ‘Arafah. Barang siapa yang tidak melaksanakan wuquf berarti tidak sah hajinya.

Namun perlu diingat bahwa berhenti di ‘Arafah bukan berarti berhenti di terminal, bukan pula berhenti di tempat-tempat hiburan lainnya, melainkan berhenti di padang pertemuan Adam dan Hawa, pertemuan Ibrahim as dan Ismail ‘alaihimas salam, padang pertemuan Haji Wada’ atau haji perpisahan Nabi Muhammad SAW dengan sahabat-sahabatnya., tempat dimana wahyu tentang syariat halal haram berakhir disana dan Islam telah disempurnakan oleh Allah.

Padang ‘Arafah adalah padang kesadaran Adam dan Hawa, tempat pertemuan akbar yang diharapkan melahirkan sikap persatuan dan persaudaraan. Yang pada akhirnya pada hari ke-10, 11, 12 hingga 13 Dzulhijjah umat Islam di syariatkan untuk berqurban sebagai wujud kasih sayang kepada saudara-saudaranya yang membutuhkan.

Allahu Akbar 3x walillahil hamd,
Hadirin Jama’ah ‘Idul Adha rahimakumullah,
Kisah qurban, bermula dari perintah Allah SWT kepada Ibrahim as untuk membawa dan menempatkan Hajar dan putra Ismail ke suatu bukit batu mati yang bernama bukit Pharan ( Mekkah ). Disana, Ditempat tersebut pada waktu itu tidak nampak ada tanda kehidupan. Disana tidak ada pohon yang tumbuh dan tidak ada air yang mengalir. 

Bahkan disekitar tempat itu, tidak ada manusia seorangpun yang tinggal disana. Siti Hajar yang akan ditinggalkan ditempat itu, memang istri seorang Nabi, tapi dia adalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Sehingga pada saat Nabi Ibrahim akan meninggalkan mereka, Hajar melontarkan pertanyaan yang mengejutkan suaminya. 

Apakah akan kau tinggalkan kami disini…? Nabi Ibrahim tidak menjawab, karena dibalik pertanyaan itu ada kesan bahwa semua ini adalah kemauan Ibrahim. Kemudian pertanyaan itu diulangi lagi, namun tetap tidak mendapatkan jawaban. Akhirnya Hajar bertanya dalam bentuk yang lain. Wahai Ibrahim, apakah ini perintah Allah ? Nabi Ibrahim menjawab. Benar Wahai Istriku.

Kini timbul pertanyaan, Kenapa Allah memerintahkan Ibrahim untuk meninggalkan anak istrinya ditempat yang menyeramkan itu ? Jawabannya karena Allah SWT ingin memberikan “latihan” langsung dilapangan kepada Hajar, sebab Hajar adalah seorang wanita yang bakal menjadi calon ibu seorang Nabi yang akan menurunkan keturunan para Nabi bahkan dari dirinyalah akan lahir seorang keturunan yang akan menjadi penutup para Nabi yaitu Nabi Muhammad SAW.

Itulah sebabnya, Hajar diuji dengan kesusahan yang betul-betul susah. Dilatih dalam latihan yang sangat berat. Tempat dimana tidak ada pohon yang memberi buah, yang bisa dimakan. Tidak ada air yang bisa diminum, Allah betul-betul mau melatih dan menanamkan hakikat yakin kepada Hajar bahwa hanya Allah lah satu-satunya yang dapat memberi pertolongan.

Kaum Muslimin……
Konon setelah 13 tahun lamanya ditinggalkan, barulah Nabi Ibrahim menengok Hajar dan Ismail yang sudah barang tentu itu bukan atas kemauannya sendiri. Dalam pertemuan Nabi Ibrahim setelah berpisah bertahun-tahun dengan anaknya itu , datang perintah yang lebih berat lagi, perintah menyembelih anaknya . 13 tahun lamanya berpisah , 13 tahun lamanya memendam kerinduan.

Kini setelah bertemu , sebelum terobat kerinduan bertahun-tahun itu, Nabi Ibrahim diperintah harus menyembelih anak satu-satunya Ismail yang paling dia sayangi dengan tangannya sendiri. Tak dapat dibayangkan bagaimana perasaan Ibrahim pada waktu itu, tetapi yang lebih mencengangkan lagi , ketika diberitakan perintah penyembelihan itu kepada putranya Ismail, Ismail as malah menjawab :
"Hai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu; insya Allah ayah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". ( Q.S As-Shaffat : 102 )

Jawaban yang benar-benar menggetarkan hati yang keluar dari lisan seorang anak yang telah dididik langsung oleh Allah, yang dari dirinyalah nanti akan terlahir Nabi penutup para Rasul. Karena kesabaran dan keteguhan Ibrahim, Hajar dan Ismail maka Allah mengirimkan seekor qibasy yang dibawa Jibril dari surga untuk disembelih sebagai pengganti Ismail, dan juga Allah mengaruniakan tempat yang mulanya tandus dan gersang menjadi tempat yang diberkahi sampai sekarang sehingga jutaan manusia dari berbagai bangsa, ras dan bahasa setiap tahun mengunjungi tempat tersebut.

Jama’ah sholat ‘Idul Adha Rahimakumullah,
Sebagai penegak tauhid Ibrahim as yakin bahwa, setiap perintah Allah swt adalah kebenaran. Hanya dengan mengikuti petunjuknya manusia akan selamat dari kehancuran. Termasuk kita yang ada disini, setiap tahun kita  berqurban, sebagai simbol  keberhasilan perjuangan  Nabi Ibrahim as dan putranya Ismail as. Ada beberapa hikmah yang kita ambil dalam peristiwa keluarga Ibrahim as, yaitu:

Pertama, Pesan Tauhid
Sejumlah agama berhala biasa mengorbankan manusia untuk menyembah tuhan mereka. Dengan diselamatkan Ismail Allah menunjukkan, bahwa Islam sangat menjujung tinggi martabat manusia. Tidak mungkin manusia meninggikan asmanya dengan membinasakan sesamanya. Sehingga dalam beribadah  kita dilarang  menyimpang dari fitrah manusia itu sendiri.

Kedua, Pesan konsistensi dengan prinsip dalam hidup Ibrahim as telah mampu meletakan struktur pemikiran dan filosofi yang kuat dalam diri dan keluarganya, yaitu bahwa setiap perintah Allah swt adalah kebenaran. Demi perintah Alah, Ibrahim as mampu meninggalkan  istri dan anaknya di padang tandus. Ibrahim as  mampu dan sanggup akan menyembelih putranya Ismail karena ujian perintah dari Allah SWT. Istiqomah adalah konsistennya seseorang  dengan sebuah prinsip dalam kurun waktu yang panjang.

Firman Allah dalam QS Ali Imran: 102
Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa kepadanya, dan janganlah mati kecuali dalam keadaan Islam ( kosistenlah di jalan Allah hingga kematianmu )

Ketiga, Pesan Perjuangan
Qurban adalah menyembelih dengan meneteskan darah hewan qurban yang terbaik tanpa cacat. Darah adalah simbol perjuangan. Darah merupakan simbol kerja keras yang telah mencapai puncaknya. Ini dapat diartikan agar kita memiliki sifat kerja keras, menjadi umat yang senantiasa tegar dalam berusaha.

Kaum papa harus terus berjuang untuk meningkatkan izzah dan martabat kehidupannya, mereka tidak boleh terus menerus menggantungkan diri pada belas kasihan orang lain. Untuk itu, semua orang harus terus menerus mengembangkan potensi dirinya dalam memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akherat.

Kita harus memiliki prinsip, bahwa tidak ada kemenangan tanpa perjuangan dan kerja keras. Kemajuan identik dengan pengorbanan. Kualitas identik dengan profesionalisme. Produktifitas identik dengan waktu dan sumber daya. 

Kekayaan identitik dengan investasi. Kemenangan mesti diraih dengan  beramal, bekerja dan komitmen yang konsisten ( istiqomah ). Kemenangan, keberhasilan dan kesuksesan tidaklah datang dengan tiba-tiba.

Allahu Akbar 3x walillahil hamd,
Hadirin Jama’ah ‘Idul Adha rahimakumullah,
Keempat, Pesan Syukur Nikmat
Ibrahim as adalah salah satu dari Nabi Allah yang terkenal kedermawanannya. Rasa syukur atas nikmat dari Allah salah satunya ia aplikasikan dengan menyantuni orang-orang faqir. Sehingga tak heran bila dalam Al Qur-an ia mendapat pujian dari Allah sebagai hamba yang penyantun ; Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat Lembut hatinya lagi Penyantun ( QS. At Taubah : 114 )

Sebagaimana yang dikatakan oleh ulama Ahli Hikmah ; “ Orang yang arif adalah yang berusaha untuk memahami manfaat yang hakiki dari setiap pemberian Allah, dan kegembiraannya bukan terletak pada pesona indah atau bagusnya dunia yang digenggamnya, melainkan dari manfaat dunia ini menjadi kendaraannya yang dapat membuatnya semakin kenal dan dekat kepada Allah “ .

Kekayaan yang tak dibagi adalah tragedi. Setiap nyawa memang ada jatah rezekinya, tapi pelaksanaannya berpulang pada hubungan sosial kita. Sebab pada sebagian penghasilan kita, ada rezeki orang lain. Seringkali, yang membuat orang lapar bukan karena tak ada makanan, tapi karena jatah makanannya ditelan orang lain.

Yang membuat orang kekurangan bukan semata karena minimnya ketersediaan kebutuhan, tapi karena ada orang lain yang tak pernah merasa berkecukupan. Akibatnya terjadi kesenjangan. Kekayaan sering pula menyisakan kisah antagonis yang tak pernah habis, Pilu dan menyesakkan seperti ulah seorang majikan yang membantai pembantunya, di Tangerang, Banten, karena hanya sang pembantu mengambil sepotong roti di kulkas.

Sepotong roti telah mengantarkan perempuan itu ke alam  kubur dengan cara yang sangat menyakitkan.  Inilah paradigma kekayaan itu, sang tuanlah yang berkuasa atas sepotong roti itu, yang sebenarnya bila ditelanpun tak penuh diujung lambung.

Kekayaan memang memiliki caranya yang khas untuk meninggikan derajat manusia, atau sebaliknya, mencampakkannya ketempat sampah kehidupan. Padahal hidup ini tidak berjalan secara mekanik. Sebab buminya tidak datar, permasalahannya tidak datar.

Selalu dibutuhkan rongga-rongga penyeimbang. Harus ada unsur-unsur lentur yang menyelaraskan. Rongga  penyeimbang itu, unsur lentur itu adalah nilai-nilai  moral keutamaan yang telah Allah bingkiskan kemuliaan itu salah satunya dalam bentuk ibadah qurban.

Ikhwaanii Fiddiin rahimakumullah,
Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla, Dzat Maha Pembolak-balik hati hamba-hamba-Nya mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk bersungguh-sungguh berjuang untuk menjadi seorang hamba ahli syukur terhadap nikmat-nikmat yang dikaruniakan kepada-Nya. Amin.....

Diakhir khotbah ini, marilah kita tundukan  mata dan hati kita dihadapan Allah swt. Dengan diiringi penghayatan yang mendalam dalam dada kita dan kebersihan hati.

Semoga Allah memberikan keberkahan yang banyak kepada kita  pada pagi hari ini. Semoga suasana alam dan benda ini menjadi saksi akan doa kita kepada Allah swt. 
Semoga malaikat  yang hadir  juga menguatkan doa kita.

Yaa Allah   Ya Rahman, Ya Rahiim, Ya Jabbar,  Ya ‘Alimun haliim. Ya Azizul Hakim. Allahuma salim ‘ ala Mumammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajimain.
Ya Allah kami yang hadir di sini adalah hambamu yang dhoif,  banyak kekurangan dan penuh dengan dosa dan kesalahan.  Yaa Allah kami mohon kepadaMu, dengan rahmatMU yang meliputi segala sesuatu, dengan kekuasaanMU  yang dengannya Engkau  taklukan segala sesuatu.

Ya Allah, kami berlindung atas cahaya robbaniMu, yang memenuhi segala sesuatu, kekuasaanMu yang mengatasi segala sesuatu, ilmuMu yang mencakup segala sesuatu. Wahai Nur, wahai yang  Maha Awal dan segala yang awal, wahai Maha Akhir dari segala yang akhir.

Ampunillah dosa-dosa kami yang mendatangkan bencana,
Ampunillah dosa-dosa kami yang merusak karunia,
Ampunillah dosa-dosa kami yang menahan doa,

Ya ampunilah dosa kedua orang tua kami, kasihanilah beliau sebagaimana beliau mengasihi kami sewaktu kecil. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kedua orang tua kami, khususnya yang  sudah meninggal dunia. Yaa  Allah, janganlah engkau azab kedua orang tua kami, disebabkan  karena  maksiat dan dosa –dosa  dari putra-putrinya. Yaa , Allah Engkaulah Maha Pengampun .

Ya Allah Ya Robbana, Jadikan negri ini negri yang berkah,  berikan kepada kami pemimpin yang bijak, tidak memihak kepada kebathilan atau egois dengan dirinya sendiri, tidak haus kekuasaan, sementara  rakyatnya  kelaparan, menderita, serta malapetaka ada dimana-mana.

Ya Allah Ya Robbana,  Jadikan negri ini, seperti  negeri  Madinah sewaktu Rasulullah memimpinnya, sebuah negri yang aman, makmur dan  semua orang merasa tenang.

---------------------------------------------------
Reviews:
5.0 stars - "KHUTBAH 'IDUL ADHA"
By , Written on October 16, 2012.
Khutbah 'Idul Adha di Masjid Al-Falah Muhammadiyah Muaradua.
Diposkan oleh Nedi Arwandi
Darussalam OKU Selatan Updated at: Selasa, 16 Oktober 2012